Home » obat-obatan

Category Archives: obat-obatan

Teknologi dalam Penemuan Obat Baru

Peran Penting Teknologi dalam Penemuan Obat Baru: Meningkatkan Efisiensi dan Keamanan dalam Pengembangan Obat

Teknologi dalam Penemuan Obat Baru

Teknologi dalam Penemuan Obat Baru, telah menjadi tonggak penting dalam perawatan kesehatan manusia. Dengan berkembangnya teknologi, proses ini telah menjadi lebih efisien dan lebih aman daripada sebelumnya. Teknologi memainkan peran penting dalam setiap tahapan pengembangan obat, mulai dari identifikasi target hingga uji klinis, dan telah menghasilkan terobosan signifikan dalam mempercepat penemuan obat baru serta meningkatkan keamanan dan efisiensinya.

Identifikasi Target Teknologi dalam Penemuan Obat Baru

Tahap awal dalam pengembangan obat adalah identifikasi target, yaitu molekul atau protein tertentu dalam tubuh yang berperan dalam penyakit tertentu. Teknologi telah mengubah cara peneliti mengidentifikasi target potensial dengan memanfaatkan pendekatan seperti bioinformatika dan pemodelan molekuler. Dengan analisis bioinformatika yang canggih, para peneliti dapat menganalisis data genomik untuk mengidentifikasi target obat potensial dengan lebih cepat dan tepat.

Pemodelan molekuler juga memainkan peran penting dalam tahap ini. Dengan menggunakan perangkat lunak pemodelan molekuler yang canggih, para ilmuwan dapat memprediksi interaksi antara molekul obat yang mungkin dengan target yang ditentukan, mempercepat proses pengembangan obat dengan mengurangi kebutuhan akan uji coba laboratorium yang intensif.

Desain Molekuler dan Optimasi Obat

Setelah identifikasi target, langkah berikutnya adalah merancang molekul obat yang dapat berinteraksi dengan target tersebut secara spesifik dan efektif. Teknologi telah mempercepat proses ini dengan pengembangan perangkat lunak desain molekuler yang canggih. Dengan menggunakan pendekatan komputerisasi, para peneliti dapat merancang molekul obat dengan sifat-sifat yang diinginkan, seperti afinitas yang tinggi terhadap target dan bioavailabilitas yang baik.

Selain itu, teknologi juga telah memungkinkan pengembangan teknik sintesis yang lebih efisien dan ramah lingkungan dalam produksi obat-obatan. Proses sintesis yang di optimalkan secara komputasional dapat mengurangi limbah kimia dan energi yang di gunakan, menciptakan proses yang lebih berkelanjutan.

Uji Pra-klinis dan Model In Silico

Sebelum menguji obat pada manusia, uji pra-klinis di lakukan untuk mengevaluasi efikasi dan keamanan obat. Teknologi telah memperkenalkan pendekatan in silico yang menggabungkan pemodelan komputer dengan data biologis dan kimia untuk memprediksi efek obat tanpa memerlukan uji coba langsung pada hewan atau manusia.

Pemodelan in silico dapat mempercepat identifikasi kandidat obat yang paling menjanjikan dan mengurangi kebutuhan akan uji coba hewan yang mahal dan kontroversial. Ini juga memungkinkan peneliti untuk memperkirakan toksisitas potensial suatu senyawa sebelum di uji pada organisme hidup.

Uji Klinis yang Di tingkatkan

Uji klinis adalah tahap paling kritis dalam pengembangan obat, dan teknologi telah menghadirkan berbagai inovasi yang meningkatkan efisiensi dan keamanan uji klinis. Salah satu perkembangan terpenting adalah penggunaan teknologi wearable dan sensor yang memungkinkan pemantauan pasien secara real-time selama uji coba.

Dengan data yang terus di pantau dan di analisis, para peneliti dapat dengan cepat mengidentifikasi efek samping atau komplikasi yang mungkin terjadi, memungkinkan intervensi yang lebih cepat dan pengambilan keputusan yang lebih baik dalam pengembangan obat. Teknologi juga telah memfasilitasi rekruitmen pasien yang lebih efisien melalui platform daring, mempercepat proses pengumpulan data klinis.

Baca juga: Mengungkap Potensi Obat Tradisional

Analisis Big Data untuk Pengembangan Obat

Salah satu aspek paling penting dari teknologi dalam penemuan obat baru adalah kemampuannya untuk mengelola dan menganalisis jumlah data yang besar. Dengan kemajuan dalam analisis big data dan kecerdasan buatan. Para peneliti dapat mengidentifikasi pola-pola dan hubungan yang kompleks dalam data klinis dan biologis dengan lebih baik.

Analisis big data memungkinkan penemuan obat yang lebih tepat sasaran dengan memahami karakteristik genetik dan biologis individu, memungkinkan pengembangan obat yang di sesuaikan secara pribadi. Ini juga dapat mengidentifikasi populasi pasien yang paling mungkin merespons positif terhadap suatu obat, memungkinkan pendekatan terapi yang lebih presisi.

 

Teknologi telah merevolusi proses penemuan obat baru, meningkatkan efisiensi dan keamanan dalam setiap tahap pengembangan obat. Dari identifikasi target hingga uji klinis, inovasi teknologi telah mempercepat waktu pengembangan obat dan mengurangi biaya yang terlibat. Dengan terus menerapkan teknologi terbaru, proses penemuan obat dapat menjadi lebih efisien. Dan menghasilkan obat-obatan yang lebih efektif dan aman untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat global.

Mengungkap Potensi Obat Tradisional

Mengungkap Potensi Obat Tradisional: Pendekatan Sains dan Integratif dalam Penelitian Obat-obatan

Mengungkap Potensi Obat Tradisional

Mengungkap Potensi Obat Tradisional telah menjadi bagian integral dari praktik kesehatan masyarakat di seluruh dunia selama berabad-abad. Berbagai budaya telah mengandalkan penggunaan ramuan alami untuk pengobatan dan penyembuhan. Namun, baru-baru ini, ada peningkatan minat dalam memvalidasi klaim obat tradisional secara ilmiah dan mengintegrasikannya ke dalam praktik medis modern. Pendekatan ini, yang dikenal sebagai pendekatan sains dan integratif dalam penelitian obat-obatan, memungkinkan pemanfaatan potensi obat tradisional dengan menggunakan metodologi ilmiah yang ketat.

Sejarah dan Filosofi Obat Tradisional

Obat tradisional memiliki akar yang dalam dalam sejarah kemanusiaan. Praktik pengobatan tradisional telah ditemukan dalam setiap budaya di seluruh dunia, dari Tiongkok kuno hingga suku-suku asli di Amerika Latin. Filosofi di balik pengobatan tradisional sering kali melibatkan konsep-konsep seperti keseimbangan energi, penggunaan tumbuhan obat, dan teknik pengobatan non-invasif.

Penerapan Metode Ilmiah dalam Penelitian Obat Tradisional

Salah satu tantangan utama dalam memvalidasi klaim obat tradisional adalah kebutuhan untuk menguji efektivitas dan keamanannya menggunakan metode ilmiah yang ketat. Pendekatan sains dan integratif dalam penelitian obat-obatan memungkinkan penyelidikan yang teliti terhadap khasiat obat-obatan tradisional. Ini melibatkan serangkaian langkah, termasuk identifikasi bahan aktif dalam ramuan tradisional, pengujian efek farmakologisnya, dan penilaian klinis terhadap pasien yang menggunakan obat tersebut.

1. Identifikasi Bahan Aktif

Langkah pertama dalam penelitian obat tradisional adalah mengidentifikasi bahan aktif yang bertanggung jawab atas efek terapeutiknya. Ini sering kali melibatkan analisis kimia untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa aktif dalam ramuan tradisional. Misalnya, dalam pengobatan Tiongkok tradisional, penggunaan teknik seperti kromatografi cair-kromatografi gas (CC-GC) dapat membantu dalam pemisahan dan identifikasi senyawa-senyawa bioaktif.

2. Pengujian Efek Farmakologis

Setelah bahan aktif telah diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menguji efek farmakologisnya dalam model hewan atau in vitro. Studi-studi ini memungkinkan para peneliti untuk memahami mekanisme aksi obat tradisional dan memvalidasi klaim-klaim tradisional secara ilmiah. Misalnya, jika sebuah ramuan tradisional di klaim memiliki efek antiinflamasi, pengujian pada model hewan dapat membantu menentukan apakah klaim tersebut memiliki dasar ilmiah.

3. Penilaian Klinis

Langkah terakhir dalam validasi obat tradisional melibatkan penilaian klinis terhadap efeknya pada manusia. Ini dapat dilakukan melalui uji klinis yang dikontrol dengan ketat, di mana obat tradisional diuji terhadap plasebo atau standar perawatan. Studi-studi ini memungkinkan para peneliti untuk mengevaluasi efektivitas dan keamanan obat tradisional dalam pengaturan klinis yang terkontrol.

Baca juga: Inovasi Terkini dalam Pengembangan Obat

Manfaat Pendekatan Sains dan Integratif

Pendekatan sains dan integratif dalam penelitian obat-obatan memiliki berbagai manfaat yang signifikan. Salah satu manfaat utamanya adalah memungkinkan penggabungan pengetahuan tradisional dengan ilmu pengetahuan modern, yang dapat meningkatkan pemahaman kita tentang khasiat obat tradisional dan memperluas pilihan perawatan yang tersedia bagi pasien. Selain itu, dengan memvalidasi klaim-klaim tradisional secara ilmiah, pendekatan ini dapat membantu mengurangi skeptisisme terhadap obat tradisional di kalangan komunitas medis dan masyarakat umum.

Studi Kasus: Pengembangan Obat Tradisional untuk Penyakit Menular

Salah satu contoh yang menarik dari penerapan pendekatan sains dan integratif dalam penelitian obat tradisional adalah upaya untuk mengembangkan obat tradisional untuk penyakit menular, seperti malaria atau tuberkulosis. Beberapa ramuan tradisional telah menunjukkan potensi sebagai agen antimikroba dalam penelitian awal. Dengan menggunakan pendekatan ini, para peneliti dapat memvalidasi klaim-klaim tersebut melalui serangkaian pengujian in vitro dan in vivo, dan pada akhirnya, mengembangkan obat-obatan yang lebih efektif dan terjangkau untuk mengatasi tantangan kesehatan global seperti penyakit menular.

Tantangan dan Kesempatan di Masa Depan

Meskipun pendekatan sains dan integratif dalam penelitian obat tradisional menjanjikan, masih ada sejumlah tantangan yang perlu di atasi. Salah satunya adalah masalah standarisasi dalam produksi dan formulasi obat tradisional, yang dapat mempengaruhi konsistensi dan keamanan produk. Selain itu, di perlukan investasi yang signifikan dalam penelitian dan pengembangan untuk menggali potensi obat tradisional secara maksimal.

Namun, dengan dukungan yang tepat dan kolaborasi antara ilmuwan, praktisi medis, dan ahli tradisional, pendekatan sains dan integratif dalam penelitian obat-obatan memiliki potensi untuk membuka pintu baru dalam pengembangan obat dan meningkatkan akses terhadap perawatan kesehatan yang aman dan efektif bagi masyarakat di seluruh dunia. Dengan demikian, upaya ini menegaskan pentingnya menghormati dan memanfaatkan kekayaan pengetahuan tradisional sambil memperjuangkan standar ilmiah yang ketat untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.

Inovasi Terkini dalam Pengembangan Obat

Inovasi Terkini dalam Pengembangan Obat

Inovasi Terkini dalam Pengembangan Obat: Melangkah Menuju Terapi yang Lebih Efektif dan Aman

Inovasi Terkini dalam Pengembangan Obat adalah salah satu bidang yang terus mengalami kemajuan pesat dalam dunia medis. Inovasi-inovasi terbaru dalam pengembangan obat tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dalam pengobatan penyakit, tetapi juga untuk memastikan kemanan pasien serta mengurangi efek samping yang mungkin timbul. Dengan terus berkembangnya teknologi dan pemahaman ilmiah tentang penyakit, peneliti dan ilmuwan farmasi terus mengeksplorasi berbagai metode baru untuk menciptakan terapi yang lebih efektif dan aman. Artikel ini akan menjelaskan beberapa inovasi terkini dalam pengembangan obat dan bagaimana hal tersebut membawa kita menuju terapi yang lebih baik.

Inovasi Terkini dalam Pengembangan Obat: Melangkah Menuju Terapi yang Lebih Efektif dan Aman

1. Terapi Berbasis Genom

Salah satu inovasi terkini yang menarik dalam pengembangan obat adalah terapi berbasis genom. Teknologi DNA rekombinan telah memungkinkan para peneliti untuk memahami lebih dalam tentang peran gen dalam penyakit. Dengan menggunakan pendekatan ini, obat-obatan dapat dirancang untuk menargetkan jalur-jalur spesifik dalam genom yang terlibat dalam perkembangan penyakit. Contohnya adalah pengembangan obat kanker yang menargetkan mutasi spesifik dalam genom tumor, memungkinkan pengobatan yang lebih tepat sasaran dan efektif.

2. Nanoteknologi dalam Pengiriman Obat

Nanoteknologi telah membuka pintu bagi pengembangan sistem pengiriman obat yang revolusioner. Partikel-partikel nano dapat dirancang untuk mengirimkan obat secara tepat ke lokasi yang diinginkan dalam tubuh, meningkatkan ketersediaan obat di sasaran dan mengurangi kerusakan pada jaringan sehat. Teknologi ini telah digunakan dalam pengembangan obat untuk berbagai penyakit, mulai dari kanker hingga penyakit autoimun, memungkinkan dosis obat yang lebih rendah dan mengurangi efek samping yang tidak diinginkan.

3. Imunoterapi

Imunoterapi adalah bidang pengembangan obat yang sedang mengalami pertumbuhan pesat, terutama dalam pengobatan kanker. Pendekatan ini melibatkan merangsang sistem kekebalan tubuh pasien untuk melawan penyakit, mengarah pada pengobatan yang lebih spesifik dan kurang toksik daripada terapi konvensional seperti kemoterapi. Inovasi terbaru dalam imunoterapi termasuk pengembangan antigen kanker yang disesuaikan secara individual dan terapi sel T yang dimodifikasi genetik untuk meningkatkan respons kekebalan tubuh terhadap sel kanker.

4. Terapi RNA

Pengembangan terapi berbasis RNA telah menjadi fokus utama dalam upaya menciptakan obat-obatan yang lebih efektif dan aman. RNA interferensi (RNAi) adalah salah satu pendekatan yang paling menjanjikan dalam hal ini, di mana molekul RNA di sintesis untuk memblokir atau mengatur ekspresi gen yang terlibat dalam penyakit. Terapi RNA telah menunjukkan potensi dalam pengobatan berbagai penyakit, termasuk penyakit neurodegeneratif, virus, dan kanker.

Baca juga: Obat Tak Layak Konsumsi

5. Obat-obatan Berbasis Kecerdasan Buatan

Penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam pengembangan obat telah membuka peluang baru untuk penemuan dan desain molekul obat. Dengan menggunakan algoritma pembelajaran mesin, peneliti dapat menganalisis data biologis dan kimia dengan lebih cepat dan akurat, mempercepat proses penemuan obat baru. AI juga di gunakan dalam pemodelan struktur protein dan desain obat untuk meningkatkan efisiensi pengembangan obat.

6. Pengembangan Obat Berbasis Target

Pengembangan obat berbasis target adalah strategi yang bertujuan untuk menargetkan molekul spesifik dalam jalur biologis yang terlibat dalam penyakit. Dengan memahami lebih dalam tentang mekanisme penyakit, peneliti dapat merancang obat yang secara selektif mengganggu proses patologis tanpa merusak fungsi normal tubuh. Namun Pendekatan ini telah mengarah pada pengembangan obat yang lebih efektif dan memiliki profil efek samping yang lebih baik.

7. Kombinasi Obat

Kombinasi obat adalah strategi pengobatan yang melibatkan penggunaan dua atau lebih. Obat dalam kombinasi untuk meningkatkan efektivitas pengobatan atau mengurangi kemungkinan resistensi obat. Namun pendekatan ini telah menjadi semakin populer dalam pengobatan penyakit seperti HIV dan kanker, di mana penggunaan kombinasi obat telah terbukti lebih efektif daripada monoterapi.

Dengan terus berkembangnya inovasi-inovasi dalam pengembangan obat, kita dapat melihat masa depan yang cerah dalam pengobatan penyakit. Melalui pendekatan yang lebih spesifik dan terarah, kita dapat mengembangkan terapi yang lebih efektif dan aman. Membawa harapan baru bagi jutaan orang yang terkena penyakit serius. Namun demikian, perlu di ingat bahwa pengembangan obat adalah proses yang kompleks dan memerlukan waktu serta upaya yang besar. Namun oleh karena itu, dukungan terus menerus dari pemerintah, industri, dan masyarakat sangatlah penting untuk mempercepat kemajuan dalam pengembangan obat. Serta menjadikan terapi yang lebih baik menjadi kenyataan bagi semua orang.

Mainkan game terpopuler di Situs Slot Gacor

Obat Tak Layak Konsumsi

Obat Tak Layak Konsumsi

Obat Tak Layak Konsumsi

Obat Tak Layak Konsumsi, orangtua harus waspada terkait merebaknya kasus gangguan ginjal akut pada anak. Hingga Sabtu (16-03-2024), terdapat 251 kasus gagal ginjal akut yang berasal dari 26 provinsi.

Melansir laman sehatkunegeriku, sekitar 80% kasus terjadi di DKI Jakarta, Jawa Barat, Aceh, Jawa Timur, Sumatera Barat, Bali, Banten, dan Sumatera Utara. Adapun persentase angka kematian ada di 56% atau sebanyak 143 kasus. Penambahan 6 kasus, termasuk 2 kematian, yang dilaporkan bukanlah kasus baru.

Pemerintah menduga kasus ini akibat adanya cemaran senyawa kimia pada obat tertentu yang saat ini sebagian sudah teridentifikasi.

Menurut Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. M Syahril, Kementerian Kesehatan bergerak dengan terus melakukan penelitian untuk mencari sebab sebab terjadinya gangguan ginjal akut pada anak. Di antaranya Kemenkes sudah menyingkirkan kasus yang disebabkan infeksi, dehidrasi berat, oleh perdarahan berat termasuk keracunan makanan minuman.

Kemenkes bersama IDAI dan profesi terkait

Dan dengan upaya itu Kemenkes bersama IDAI dan profesi terkait telah menjurus kepada salah satu penyebab yaitu adanya keracunan atau intoksikasi obat.

Terkait hal itu, setiap orang perlu mencermati sebelum mengonsumsi obat dengan mengenali ciri-ciri obat yang terjamin layak dan aman.

Melansir indonesiabaik.id, obat tak layak konsumsi itu berbahaya, sebab memiliki kandungan yang tak stabil dan rawan terkontaminasi kuman. Obat yang sudah tidak layak jika tetap di konsumsi maka berakibat tidak manjur dan rentan meracuni tubuh.

Sumber: https://www.hudsongrillect.com/

14 Ciri Obat Tak Layak Konsumsi dari BPOM, Jangan Anggap Remeh

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut, ada beberapa penyebab obat rusak. Pertama, kemungkinan obat yang di simpan pada tempat yang lembab. Kedua, terpapar sinar matahari langsung. Ketiga, suhu penyimpanan tidak tepat. Keempat, obat yang tidak sengaja sering terguncang.

 

Baca juga: Obat Kedaluwarsa

Ciri Obat Tak Layak Konsumsi

Menurut BPOM, terdapat beberapa tanda obat rusak dan kadaluarsa yang tidak boleh di konsumsi, antara lain:

  1. Lewat masa kadaluarsa yang tercantum pada kemasan obat
  2. Kemasan obat rusak seperti pecah, retak, atau berlubang
  3. Label pada kemasan obat hilang, tidak utuh, atau tulisan tidak terbaca
  4. Obat berubah warna, bau, dan rasa
  5. Muncul noda bintik-bintik pada obat berbentuk tablet dan puyer
  6. Obat tablet sudah hancur atau menjadi bubuk
  7. Obat tablet terlepas dari bungkusnya
  8. Obat padat seperti tablet dan puyer terlihat lembab, lembek, basah, lengket
  9. Cangkang pada obat kapsil lembek dan terbuka sehingga isinya keluar
  10. Kemasan obat puyer sudah terkoyak, sobek, atau lembab
  11. Obat cair seperti sirup berubah menjadi keruh, kental, ada endapan, terpisah, kemasannya berembun
  12. Obat salep, gel, krim berubah menjadi ada bagian yang terpisah, mengeras, kemasan lengket, kemasan berlubang, bahkan isi obat bocor
  13. Isi cairan obat injeksi tidak kembali menjadi suspensi setelah di kocok
  14. Wadah obat semprot seperti inhaler peyok atau berlubang

Obat Kedaluwarsa

Obat Kedaluwarsa

Waspada Obat Kedaluwarsa

Obat Kedaluwarsa, Sahabat BPOM pasti sudah sering melihat tulisan ED atau kepanjangan dari Expired Date di kemasan suatu Obat. Namun ED atau Kedaluwarsa harus dicantumkan disuatu kemasan produk Obat sehingga kita sebagai konsumen juga dapat melihat gambaran mutu obat tersebut. Namun Apa sih kedaluwarsa tersebut, yuks kita simak dibawah ini .

adalah Batas kedaluwarsa yang  di tetapkan berdasarkan uji stabilitas yang di lakukan pada suhu dan kondisi sesuai dengan kondisi ideal penyimpanan obat. Namun Lamanya kedaluwarsa dihitung sejak tanggal obat di produksi hingga waktu uji terakhir dimana obat tersebut di nyatakan. Namun masih memenuhi persyaratan mutu atau lamanya uji stabilitas obat yang datanya tersedia dengan hasil obat memenuhi syarat.

Cara mengetahui obat Exp

a. Melakukan pengecekan tanggal kedaluwarsa pada kemasan

Contoh : ED Agustus 2024, maka obat tersebut masih boleh dikonsumsi pada tanggal 31 Agustus 2024

b. Melihat perubahan fisik obat (perubahan warna, bau dan rasa)

  • Ciri – ciri  fisik Obat kedaluwarsa dalam bentuk Tablet
    • Berubah warna, bau dan rasa
    • Timbul noda bintik-bintik
    • Hancur/menjadi bubuk
    • Hilang/terlepas dari kemasan
    • Lembab, lembek, basah, lengket
  • Ciri – ciri fisik obat kedaluwarsa dalam bentuk Kapsul
    • Berubah warna, bau dan rasa
    • Cangkang kapsul menjadi lembek, terbuka sehingga isinya keluar
    • Cangkang kapsul melekat satu sama lain, dapat juga melekat dengan kemasan
  • Ciri -ciri fisik Obat kedaluwarsa dalam bentukl Serbuk/puyer
    • Berubah warna, bau dan rasa
    • Lembab, lembek, basah, lengket
    • Timbul noda bintik-bintik
    • Kemasan terbuka, terkoyak atau sobek
    • Kemasan lembab
  • Ciri -ciri fisik Obat Kedaluwarsa dalam  bentuk Cairan
    • Berubah warna, bau dan rasa
    • Keruh
    • Mengental
    • Mengendap
    • Memisah
    • Segel pada kemasan rusak/terkoyak
    • Kemasan lembab atau berembun
  • Ciri -ciri fisik obat kedaluwarsa dalam bentuk  Salep, gel, krim
    • Berubah warna, bau dan rasa
    • Mengental
    • Mengendap
    • Memisah
    • Mengeras
    • Kemasan lengket
    • Kemasan berlubang
    • Isi bocor
  • Ciri -ciri fisik obat dalam Produk steril (termasuk injeksi)
    • Injeksi: cairan tidak kembali menjadi suspensi setelah di kocok
    • Kemasan terkoyak atau sobek
    • Kemasan bernoda
    • Kemasan berembun
    • Ada bagian yang hilang
    • Ada bagian yang rusak atau bengkok
  • Ciri ciri fisik obat Aerosol (termasuk inhaler untuk asma)
    • Isinya sudah habis
    • Wadah rusak, berlubang, penyok

Langkah-langkah membuang obat bersama dengan sampah rumah tangga

a.      Ambil obat dari kemasan aslinya dan campurkan obat dengan barang yang tidak enak seperti ampas kopi atau teh dan tanah. Namun Dengan begitu obat menjadi tidak menarik bagi anak-anak, hewan peliharaan, maupun orang-orang yang sengaja mencari obat di bak sampah.

b.        Taruh campuran dalam wadah yang bisa di tutup untuk menjaga agar obat tidak bocor atau tumpah

c.        Buang wadah ke tempat sampah

d.        Untuk membuang kemasan:

    • Hilangkan seluruh informasi pribadi dari kemasan obat.
    • Jika Wadah berupa botol atau pot plastik, lepaskan etiket obat, dan tutup botol, kemudian di buang di tempat sampah.
    • Jika Boks / dus / Tube, maka gunting dahulu baru di buang.

e.        Obat yang dapat di buang di toilet atau saluran air yaitu obat yang berupa cairan. Namun dengan cara obat di encerkan dengan air dan di buang kedalam saluran air.

Cara mencegah terpakainya obat kedaluwarsa

a.        Secara rutin, menyortir obat-obatannya

b.        Membuat sistem penandaan untuk membedakan sisa masa kedaluwarsa. Namun dalam rangka memberikan identitas yang jelas.

Dampak menggunakan obat kedaluwarsa adalah penurunan potensi khasiat yang disebabkan oleh penurunan kadar. Namun Pencantuman ED pada kemasan adalah bagian dari komitmen bersama untuk melindungi pasien. Namun kita jadi konsumen cerdas, jangan lupa Cek KLIK. Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar dan Cek Kedaluwarsa.

Baca juga: Penyakit Ginjal Dan Pengobatannya

Awas Overdosis obat-obatan

Awas Overdosis obat-obatan

Awas Overdosis obat-obatan

Awas Overdosis obat-obatan! Banyak orang yang beranggapan kalau minum obat melebihi dosis akan membuat dirinya lebih cepat sembuh. Padahal seringkali di sarankan ketika sebelum mengonsumsi obat harus selalu baca aturan pakainya.

Selain itu pergunakan obat sesuai anjuran dokter pun sudah menjadi peringatan agar tidak terjadi overdosis. Meskipun sudah ada aturan dalam meminum obat seperti mengetahui dosis obat yang dianjurkan, waktu minum obat, kapan obat harus digunakan hingga cara obat diminum, namun beberapa orang masih berusaha untuk meminumnya dengan dosis terlalu banyak.

Kesalahpahaman ketika mengonsumsi obat ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Perlu diketahui bahwa terlalu banyak minum obat yang tak sesuai dosis dokter hanya akan memberikan efek samping merugikan. Selain bisa overdosis, maka organ-organ yang berada di dalam tubuh pun bisa mengalami luka.

Jika kamu ingin mengetahui dampak negatif lain akibat terlalu banyak minum obat, kini  kami telah merangkumnya. Informasi ini perlu di perhatikan baik-baik agar tidak berdampak untuk kesehatan.

Awas Overdosis obat-obatan, Kenali 3 Fakta Buruk Akibat Terlalu Banyak Minum Obat

1. Memicu gangguan kesehatan mental

Minum obat memang menjadi salah satu alternatif yang bisa di lakukan oleh semua orang untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Namun, jika obat terlalu di minum terlalu banyak alias penderita overdosis hanya akan berdampak negatif untuk kesehatan tubuh dan juga mental.

Gangguan masalah mental dan emosional bisa saja muncul sewaktu-waktu. Efek paling umum yang dapat di rasakan ketika terlalu seri mengonsumsi obat yaitu adanya perubahan pada suasana hati, mulai merasa kelelahan hingga menimbulkan depresi yang berkepanjangan.

Tak hanya itu, bahkan seseorang yang sengaja minum obat melebihi dosis seharusnya bisa di katakan sebagai usaha untuk bunuh diri. Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, maka ada baiknya segera di rujuk ke psikiater untuk menangani masalah kesehatan kejiwaan.

2. Sewaktu-waktu akan muncul berbagai gejala penyakit baru

Terlalu banyak mengonsumsi obat hanya akan berdampak negatif untuk kesehatan tubuh. Jika di biarkan dan terlalu sering, maka tanpa di sadari kebiasaan ini akan menimbulkan reaksi baru. Gejala baru yang memicu penyakit tertentu akan muncul dengan sendirinya, bahkan gejala tersebut mungkin saja belum pernah di rasakan. Hal inilah yang di sebut sebagai interaksi obat terhadap sistem imun tubuh jika terus di konsumsi dalam jumlah banyak.

Biasanya akan muncul beberapa gejala yang di rasakan seperti kemampuan otak mulai menurun dari biasanya, adanya gangguan pencernaan, tubuh terasa lebih lemas, timbulmya masalah kulit hingga palpitasi jantung.

Untuk mencegah terlalu banyak minum obat yang dapat mengakibatkan overdosis dan memicu gejala-gejala baru, maka ada baiknya terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi beberapa obat.

Setidaknya cara ini dapat membantu diri sendiri atau keluarga terhindar dari kemungkinan terburuk yang akan memunculkan berbagai gejala baru, termasuk memicu penyakit tertentu.

3. Menimbulkan rasa nyeri pada bagian sendi atau otot

Gangguan kesehatan lain yang bisa terjadi jika terlalu banyak minum obat yaitu munculnya rasa nyeri pada bagian sendi dan otot. Kebiasaan terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan bukanlah sesuatu yang membuat tubuh menjadi sehat, melainkan sebaliknya apalagi jika sudah masuk ke dalam indikasi overdosis. Reaksi obat-obatan terlalu banyak ini hanya akan memicu rasa sakit yang dapat bersumber dari bagian sendi atau otot.

Jika di biarkan dan terlalu sering di lakukan, maka bagian sendi dan otot akan terus merasa nyeri yang tak kunjung henti. Tak hanya itu, rasa sakit di bagian lain yang bukan bersumber dari sendi dan otot pun dapat muncul sewaktu-waktu.

Tips Pencegahan agar Terhindari dari Overdosis

Dalam mengonsumsi obat yang bertujuan untuk menurunkan hingga menghilangkan berbagai gejala penyakit tentu tidak boleh sembarangan ketika di konsumsi.

Perlu Mama ketahui bahwa ada beberapa hal yang harus di perhatikan saat mengonsumsi obat untuk mencegah terjadinya overdosis serta keracunan obat. Berikut beberapa hal yang perlu di ingat, seperti:

  • Penting sekali berkonsultasi dengan dokter agar dirinya bisa mengetahui semua jenis obat yang sedang di konsumsi. Beritahukan semua obat-obatan yang memang aktif di konsumsi seperti obat resep dari dokter, obat tanpa resep alias di jual bebas maupun obat herbal. Hal ini di karenakan berbagai jenis obat yang di konsumsi tentu akan memiliki interaksi atau efek samping yang berbeda-beda untuk tubuh.
  • Selalu terbuka dan berdiskusi dengan dokter terlebih dahulu, termasuk saat memiliki alergi dengan kandungan obat tertentu.
  • Bukan hanya sebatas minum obat sesuai dosis aja, namun perlu sekali minum obat dengan cara yang baik dan benar. Minumlah obat sesuai waktu yang telah di anjurkan.
  • Tidak mengonsumsi obat bersamaan dengan obat lain bila tidak di anjurkan oleh dokter. Pastikan mengonsumsi segala sesuatunya agar sesuai dengan yang telah di resepkan.
  • Pahami ukuran dalam mengonsumsi obat seperti ml (mililiter), sdt (sendok teh), dan sdm (sendok makan). Kenali juga bahwa ukuran 1 sdt (sendok teh) setara dengan 5 ml (mililiter). Lalu takaran sdm (sendok makan) setara dengan tiga kali lipat takaran sdt (sendok teh) yaitu 15 ml.
  • Lakukan tiga langkah pemeriksaan obat sebelum di konsumsi, seperti memeriksa keutuhan kemasannya, memeriksa labelnya untuk mengetahui jenis obat dan takaran pemberian. Lalu periksa juga kualitas obatnya dengan memastikan bau, warna dan bentuknya tidak berubah.

Itulah beberapa hal yang perlu di perhatikan dengan tujuan agar obat dapat bekerja secara lebih efektif. Bahkan obat yang di konsumsi dengan penggunaan yang tepat bisa membantu dalam mengendalikan berbagai gejala selama sedang sakit.

Baca juga: Bahaya Narkoba untuk Kesehatan

Bahaya Narkoba untuk Kesehatan

Bahaya Narkoba untuk Kesehatan

Bahaya Narkoba untuk Kesehatan

Bahaya Narkoba untuk Kesehatan, narkoba adalah narkotika dan obat-obatan yang bersifat adiktif. Serta dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental pada penggunanya jika di salahgunakan. Obat-obatan tersebut memiliki senyawa dan peruntukannya masing-masing.

Maka dari itu, obat-obatan tidak boleh di gunakan secara sembarangan tanpa pengawasan dokter. Jika di salahgunakan, bukan hanya kecanduan, nyawa dari penggunanya pun dapat terancam. Simak artikel berikut ini untuk penjelasan lebih lanjut mengenai dampak narkoba dan hubungannya dengan kesehatan mental.

8 Bahaya Narkoba untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Berikut adalah sejumlah efek negatif dan bahaya dari narkoba.

1. Melemahkan Sistem Imun

Ternyata, narkoba dapat melemahkan imun lo. Hal ini pun diungkapkan dalam penelitian yang dimuat Clinical Microbiology Reviews. Pada jurnal tersebut, disebut bahwa penyalahgunaan narkoba, seperti opium, kokain, dan ganja, dapat pengaruhi sistem imun baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketika sistem imun tubuh melemah, tubuh pun jadi lebih mudah terserang berbagai infeksi penyakit.

2. Rentan Terkena AIDS

Masih berhubungan dengan lemahnya sistem imun setelah tubuh tergantung pada narkoba, tubuh pengguna juga jadi rentan terkena AIDS. AIDS adalah kondisi yang diakibatkan human immunodeficiency virus (HIV) menyerang sistem kekebalan tubuh. Pada pecandu narkoba yang sistem imunnya lemah, virus HIV akan lebih mudah masuk tubuh tanpa perlawanan berarti.

Lebih bahayanya lagi, penyakit AIDS ini dapat menular melalui hubungan seksual dan jarum suntik. Selain itu, ibu yang menderita AIDS juga berisiko menularkan penyakit ini ke anaknya.

3. Gagal Jantung

Penyalahgunaan narkoba juga dapat mengganggu kerja jantung. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan The American Journal of Medicine, penyalahgunaan sabu, alkohol, dan opioid dapat meningkatkan risiko gagal jantung.

Bahkan, peluang mengalami gagal jantung pada pada pecandu narkoba hampir sama dengan orang yang mengidap penyakit komorbid seperti kelainan irama jantung, penyakit jantung iskemik, dan penyakit ginjal kronis.

4. Gangguan Liver

Narkotika seperti ganja, sabu, dan kokain, dapat menjadi racun bagi liver. Ini sangat berbahaya, sebab fungsi utama liver adalah sebagai penawar racun di tubuh manusia. Nah, ketiga jenis narkotika ini bisa mengganggu fungsi hati, sehingga tidak dapat bekerja dengan baik. Tanpa adanya liver sebagai penawar racun di tubuh, kita jadi lebih rentan terhadap berbagai infeksi.

5. Gangguan pada Otak

Narkoba juga dapat menimbulkan bahaya pada otak, karena racun di dalamnya bisa menyerang sel-sel dalam otak. Dalam situasi tertentu, setelah mengonsumsi narkotika terlarang, otak bisa mengalami hipoksia (kekurangan asupan oksigen) dan overdosis.

Lebih parahnya lagi, penyalahgunaan narkoba juga bisa membuat otak mengalami dampak lebih serius, seperti cedera traumatis, stroke, penyusutan, dan lain-lain.

6. Gangguan Sistem Pencernaan

Narkoba sintetis seperti ekstasi dapat berbahaya untuk saluran pencernaan, karena dapat memicu komplikasi pembuluh darah pada lambung. Lebih berbahayanya lagi, terkadang gangguan pencernaan akibat penyalahgunaan narkoba sulit terdeteksi. Soalnya, gejalanya bisa mirip dengan yang terjadi bila kita terkena gangguan lain, semisal anemia, kolesistitis, porfiria akut, dan nefrolitiasis.

7. Gangguan Kognitif

Tidak perlu sampai kena stroke, konsumsi narkoba juga bisa berpengaruh pada kemampuan berpikir atau fungsi kognitif. Akibatnya, sehari-hari kita akan alami kesulitan saat harus belajar, mengingat, berkonsentrasi, dan memahami sesuatu. Bahkan, kita juga sulit mengendalikan dorongan atau impuls dari dalam diri.

8. Depresi

Tidak hanya fisik, penyalahgunaan narkoba juga dapat menyerang mental seseorang. Menurut studi, banyak orang dengan gangguan kesehatan mental yang sekaligus kecanduan narkoba. National Institute of Health Sciences mencatat, sekitar sepertiga orang dengan depresi juga punya masalah dengan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Narkoba memang bukan penyebab gangguan kejiwaan satu-satunya. Tapi, reaksi otak setelah terpapar narkoba dapat berdampak buruk terhadap pola pikir dan mood.  Zat dalam narkoba dapat memicu atau meningkatkan intensitas rasa sepi, sedih, dan putus asa. Emosi seperti ini banyak ditemukan pada pengidap depresi.

Ciri-Ciri Orang yang Kecanduan Narkoba

Berikut adalah tanda-tanda seseorang menjadi kecanduan mengkonsumsi narkoba adalah sebagai berikut:

  • Pecandu merasa tidak membutuhkan obat-obatan lain untuk pemulihan.
  • Saat lepas dari narkoba, muncul rasa depresi, pusing, keringat dingin, kebingungan, nyeri perut, hingga badan bergetar.
  • Tidak bisa lepas dari narkoba saat pecandu sudah membuat banyak masalah kepada teman, keluarga, dan sekitarnya.
  • Sulit konsentrasi saat melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Kehilangan minat untuk melakukan hobi yang disukai sebelumnya.
  • Berisiko untuk melakukan kegiatan berbahaya, seperti menyetir dalam keadaan tidak sadar.
  • Tahan untuk tidak tidur, atau konsumsi makanan berlebih atau kurang.
  • Kondisi fisik tubuh lemah dan tak terkendali, mata terbuka, bau mulut, sering mimisan, hingga tubuh terlalu kurus atau gemuk.
  • Kecanduan dengan zat lain, seperti alkohol.
  • Menambah dosis saat menggunakan obat-obatan.

Tanda-tanda di atas mungkin terjadi bagi para orang dalam gangguan jiwa (ODGJ) yang tidak melakukan terapi dan pengawasan oleh psikolog maupun psikiater. Kemudian, pecandu yang terganggu kesehatan mentalnya pada umumnya bergaul dengan lingkungan dengan sesama pecandu, karena salah satu faktor penyalahgunaan zat hingga melebihi dosis adalah lingkup pertemanan.

Pengobatan dan Penyembuhan Penyalahgunaan Narkoba

Untuk menghentikan ketergantungan seseorang terhadap narkoba, perilaku dari pengguna narkoba pun perlu diubah. Maka dari itu, diperlukan adanya terapi pengubahan perilaku dalam proses rehabilitasi.

Dokter spesialis kedokteran jiwa Bina Husada (part of Mitra Keluarga), dr. R. Windi Rachmawati Kusumah, Sp.KJ, menyatakan bahwa pengobatan narkoba akan fokus pada detoksifikasi terhadap lingkungan dan sosial, rehabilitasi medik, dan rehabilitasi perilaku.

  1. Detoksifikasi terhadap lingkungan dan sosial pasien menjadi awal pemulihan sebelum rehabilitasi di lakukan. Tahap ini mudah gagal jika pasien kembali berinteraksi dengan lingkup pertemanan sesama pecandu.
  2. Rehabilitasi medik, dengan substitusi obat pengganti agar dapat keluar dari ketergantungan narkoba.
  3. Rehabilitasi perilaku serta psikologis pasien, yang perlu di bantu oleh berbagai pihak, seperti keluarga, teman yang suportif, serta pengawasan psikolog atau psikiater.

Salah satu dampak narkoba, psikotropika, dan zat adiktif lainnya adalah kecenderungan mental yang terganggu. Kecanduan yang berkepanjangan tentunya dapat di sembuhkan dengan rehabilitasi rutin, dan konsultasi berkala dengan psikolog maupun psikiater untuk memperbaiki pola hidupnya.

Baca juga: Awas Overdosis obat-obatan

Konsumsi Antibiotik Secara Berlebihan

Konsumsi Antibiotik Secara Berlebihan

Konsumsi Antibiotik Secara Berlebihan

Konsumsi Antibiotik Secara Berlebihan, Antibiotik adalah bahan pokok dalam pengobatan modern yang telah menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun. Di sisi lain, obat ini juga bisa merusak sistem bakteri normal yang memengaruhi kesehatan manusia.

Tubuh kita adalah rumah bagi triliunan bakteri dengan kepadatan tertinggi berada di usus. Manusia tidak dapat hidup tanpanya. Namun, apakah kita secara permanen merusak bagian penting tubuh ini setiap kali kita mengonsumsi antibiotik?

“Mikrobioma usus adalah jaringan kompleks bentuk kehidupan mikrobiotik dan semua hal yang mereka butuhkan untuk mempertahankan diri di dalam tubuh,” kata James Kinross, konsultan ahli bedah kolorektal di Imperial College London. Mikrobioma usus berperan besar dalam menjaga kesehatan kita, termasuk mengatur sistem kekebalan tubuh dan membantu pencernaan.

Dampak buruk konsumsi antibiotik secara berlebihan: ‘Merusak bakteri baik hingga sistem kekebalan tubuh’

Para ahli berpendapat antibiotik adalah salah satu ancaman terbesar terhadap mikrobioma usus. Antibiotik, yang biasa diresepkan untuk mengobati dan mencegah infeksi bakteri, merupakan landasan pengobatan modern.

Namun, dalam proses membunuh bakteri penyebab infeksi di tubuh, antibiotik juga secara tidak sengaja dapat memusnahkan bakteri lain di tubuh kita.

Ada kekhawatiran yang semakin besar di kalangan ilmuwan mengenai dampak kesehatan dari meningkatnya ketergantungan kita pada antibiotik; antara tahun 2000 hingga 2015, resep antibiotik global meningkat sebesar 65%.

Masalah yang muncul dengan meningkatnya penggunaan antibiotik ini ada dua: kerusakan yang terjadi pada mikrobioma usus dan meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotik.

“Antibiotik mengganggu ekosistem rumit mikrobioma usus kita, dan dengan demikian menempatkan bakteri yang masih hidup pada risiko lebih besar untuk menyumbangkan gen resisten mereka kepada patogen,” kata Gautam Dantas, profesor laboratorium dan kedokteran genom di Fakultas Kedokteran Universitas Washington, AS.

Kita tahu bahwa semakin beragam jumlah bakteri dalam usus kita maka akan semakin baik. Namun setiap antibiotik mengganggu populasi ini karena dia tidak cukup tepat sasaran membunuh bakteri patogen penyebab infeksi. Sebaliknya, mereka memburu semua bakteri di usus kita.

Dampak Tambahannya

Bayangkan sebuah hutan di mana kita mencoba membasmi satu infeksi gulma. Cara kita menggunakan antibiotik adalah dengan mengebom hutan, membunuh yang baik dan yang jahat.”

Ketika para ilmuwan melihat secara retrospektif mikrobioma orang yang pernah mengalami infeksi dan kemudian di beri antibiotik. Mereka menemukan sebagian besar keragaman mikrobioma pulih dalam beberapa bulan, kata Dantas.

Namun, pada beberapa orang, beberapa bakteri baik tidak pernah muncul lagi, tambahnya. Dantas dan tim penelitinya telah mempelajari sampel feses yang di kumpulkan dari anak-anak yang di rawat di rumah sakit yang terhubung dengan laboratoriumnya.

Sampel ini di kumpulkan secara rutin, sebelum adanya infeksi dan pemberian antibiotik. Sehingga memungkinkan timnya untuk melihat perubahan pada anak-anak yang terkena infeksi dan diberi antibiotik di kemudian hari.

Dantas menggunakan sampel ini untuk membandingkan perubahan mikrobioma usus setelah pemberian antibiotik pada dua kelompok bayi. Kelompok pertama adalah bayi prematur, yang lahir sebelum usia 36 minggu, dan yang kedua adalah bayi cukup bulan, yang lahir setelah usia 36 minggu.

“Apa yang kita ketahui terjadi pada orang dewasa setelah penggunaan antibiotik terjadi lebih dramatis pada bayi: keragaman mikrobioma yang lebih rendah dan lonjakan besar dalam gen yang resistan terhadap obat,” ujarnya.

Meskipun efeknya berbeda-beda pada setiap orang, dan bergantung pada usia kita, konsensus. Di antara para ilmuwan adalah efek dari satu jenis antibiotik bisa bersifat permanen.

“Beberapa orang sangat rentan terhadap kerusakan mikrobioma mereka akibat antibiotik, dan ekologi mikrobioma. Mereka akan berubah secara dramatis dan tidak akan pernah kembali seperti sebelum dosis antibiotik di berikan.”

“Kita kehilangan keragaman dalam usus kita dan mikroba penting yang telah menghidupi kita. Selama ratusan ribu tahun hilang dalam skala waktu yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Namun, para ilmuwan masih mencoba mencari tahu dampak kesehatan jangka panjang dari penggunaan antibiotik terhadap mikrobioma usus kita.

Baca juga: Bahaya Narkoba untuk Kesehatan